Sejarah Singkat Masjid At-Taqwa Kemanggisan Palmerah

masjid at-taqwa palmerahPerumahan Komplek Pajak dibangun sekitar tahun 1963. Jumlah rumah yang dibangun pada saat itu, kurang dari 100 unit. Mayoritas penduduknya beragama Islam.

 

Ketika awal dibangun komplek Pajak ini, belum dilengkapi dengan sarana ibadah. Karena itulah warganya, mengalami kesulitan melaksanakan kegiatan ibadah seperti sholat rawatib berjamaah, apalagi sholat jum’at dan belajar agama bagi putra putri mereka, dan lebih sulit lagi bila bulan Ramadhan tiba, karena tidak ada tempat yang layak untuk kegiatan sholat tarawih, dan kegiatan ibadah ramadhan lainnya. Beruntung ada aula TK Bhakti yang diset khusus untuk menjadi sarana ibadah, terutama untuk sholat tarawih berjama’ah dan belajar mengaji bagi putra-putri penghuni komplek Pajak. Setelah 10 tahun Komplek Pajak Kemanggisan dibangun ( 1973 ), maka dibuka Sekolah Agama / Madrasah Diniyah Cabang Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta Selatan, yaitu Pendidikan Islam Al-Azhar ( PIA ) milik Yayasan Al-Azhar dibawah Pimpinan Buya Hamka Ulama karismatik pada saat itu. Adanya Cabang PIA di Kemanggisan ini adalah hasil inisiatif, pendekatan dan permintaan langsung H.Imran Hasyim kepada Buya Hamka. Buya Hamka menyetujui membuka Cabang PIA di Kemanggisan dengan syarat pihak PIA hanya menyediakan Kurikulum dan tenaga Pendidik, sedangkan sarana dan gaji para Pendidiknya ditanggung oleh penghuni Komplek Pajak Kemanggisan. Saat pertama dibuka, banyak calon santri yang ingin belajar di PIA tersebut, tapi aula TK Bhakti tidak mampu menampung santri yang melebihi kapasitas, bahkan untuk praktek sholat setelah mengaji hampir tidak mungkin dilakukan.  Keadaan seperti itu, sampai bertahun tahun.

 

Tiga belas tahun kemudian (1976), atau tiga tahun setelah Cabang PIA dibuka ( 1973 ), pembangunan perumahan komplek Pajak diperluas sampai ke jalan Bhakti. Akibatnya, penghuni komplek Pajak makin bertambah, sehingga sarana belajar Agama Islam (Qur’an dan sholat) dan kegiatan ibadah Ramadhan di Aula TK Bhakti tidak memenuhi syarat lagi, karena tidak mampu lagi menampung jama’ah, sedangkan Masjid/mushola disekitar komplek Pajak saat itu, masih sulit dijangkau, maka lahirlah ide untuk membangun sebuah Masjid di Komplek Pajak ini dari H.Imran Hasyim, dan disambut dengan sangat positif oleh H.Eddy Mangkuprawira. Lalu dua hari kemudian diadakan musyawarah dan  pendekatan dengan Ketua Komplek yaitu H.Dja’far Mahfud, dan Ketua Komplek menyambut dengan baik ide itu, dan berjanji  akan menyampaikan aspirasi penghuni Komplek Pajak itu pada Dirjen Pajak yaitu H.Sutadi Sutarya. Beberapa hari kemudian, H.Dja’far Mahfud didampingi oleh H.Imran Hasyim menghadap Dirjen Pajak untuk menyampaikan maksud penghuni Komplek untuk membangun sebuah Masjid sebagai sarana ibadah. Ternyata Dirjen Pajak sangat setuju dengan pembangunan sarana ibadah itu, dan pada saat itu juga Dirjen menginstruksikan kepada Sekertarisnya yaitu H.Husein Kartasasmita, untuk mentutaskan berbagai hal yang diperlukan, lalu Dirjen Pajak memberikan lahan sekitar 3750 meter yang terletak di Jalan Sakti IV.

 

Setelah lahan dimiliki, maka Penghuni Komplek Pajak segera membentuk Panitia Pembangunan masjid. Akhirnya disepakati untuk ketua panitia adalah H. Sudibyo. Ketua pelaksana pembangunan adalah H.Hasanuddin, sekaligus diberi mandat mencari dan bernegosiasi dengan  pemborong. Desain gambar dirancang  oleh H.Eddy Mangkuprawira, dengan ruang utama Masjid bersegi enam, makna filosofisnya adalah  rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap mukmin / mukminat.
Dengan rahmat Allah dan kerja keras panitia, akhirnya dalam waktu kurang dari satu tahun, maka berdirilah sebuah Masjid, diberi nama “At Taqwa” dengan daya tampung kurang lebih 300 orang. Nama “At Taqwa” diberikan langsung oleh Dirjen Pajak sendiri ( H.Sutadi Sutarya ). Lalu diresmikan penggunaannya oleh Dirjen Pajak, pada hari Jum’at tanggal 27 Mei 1977. Pelaksanaan sholat Jum’at pertama hari itu juga. Bertindak sebagai khotib dan imam pada saat itu adalah Drs. H. Dahlan AS, salah seorang Pejabat Tinggi dari Departemen Agama RI.
Selanjutnya orang orang yang datang beribadah di Masjid At-Taqwa makin bertambah, terutama  sholat jum’at. Ruangan utama Masjid tidak mampu lagi menampung jama’ah, lalu setelah 4 tahun kemudian (1981) Pengurus memutuskan sisi kiri dan kanan serta belakang diperluas lebih kurang 10 meter dengan beratap auning. Setelah 3 tahun, atap auningnya sering bocor, dan paling banyak di komplain jamaah adalah bunyi berisik atap bila terjadi hujan, sehingga mengganggu jama’ah, terutama hari Jum’at, suara khotib dan imam kadang tidak jelas didengar. Kebetulan ada seorang Pejabat Pajak ( H.Syaiful Hamid ) sholat Jum’at di Masjid At-Taqwa, hari itu hujan lebat, beliau komplain karena tidak dapat mendengar khotib berkhutbah, atap auning berisik sekali. Beliau menemui Pengurus, lalu mengusulkan agar Masjid ini direhab total. Usul itu dimusyawarahkan oleh Pengurus dan usul itu diterima, dan akhirnya pada tahun 1985, Masjid At Taqwa dibongkar total untuk dibangun sebuah Masjid permanent  berlantai dua. Untuk kelancaran pembangunan, maka dibentuklah panitia pembangunan Masjid At Taqwa. Panitia dibentuk berdasarkan keputusan Dirjen Pajak : No.66/PJ.12-1985 tanggal 21 Mei 1985 dengan susunan panitia sbb :

 

1. Ketua Umum                 : Haryono Sosrosugondo
2. Ketua Harian                : H.Moedjiono K.
3. Sekertaris                     : H.A.Anshari Ritonga
4. Bendahara I                  : H.Supawi Achmadi
5. Bendahara II                : H.Imran Hasyim
6. Pembantu Umum         : H.Syaiful Hamid

 

Berkat rahmat Allah dan kerja keras panitia, maka hanya dalam waktu kurang dari 13 bulan, pembangunan Masjid At Taqwa selesai 100%. Kemudian diresmikan oleh Dirjen Pajak  ( Salamun AT ) pada tanggal 27 April 1987. Luas tanah masjid adalah 80 X 37,5 meter dan luas bangunannya ialah 45 X 30 meter. Dibangun dengan biaya Rp 420.000.000,- dan sumber biaya  berasal dari swadaya masyarakat. Daya tampung jama’ah setelah direhab lebih kurang 3000 orang.

 

Kemudian jama’ah semakin banyak, terutama pada pelaksanaan Sholat Jum’at dan Sholat Tarawih pada bulan Ramadhan. Jama’ah yang melaksanakan Sholat Jum’at dan sholat tarawih bukan hanya warga Komplek Pajak saja, tapi juga warga diluar Komplek Pajak. Demikian juga kepercayaan jama’ah untuk menyalurkan Zakat, Infak dan Shodaqohnya  serta ibadah qurban melalui Pengurus Masjid At-Taqwa semakin meningkat pada setiap tahunnya. Untuk itu, Pengurus Masjid memandang perlu untuk membentuk sebuah Yayasan, agar Masjid At-taqwa yang sudah permanen itu dikelola secara profesional. Maka pada tanggal 11 Juni 1990 terbentuklah sebuah Yayasan yang diberi nama Yayasan Taqwa Bhakti, didepan akta notaris MUDOFIR HADI SH.

 

Para pendiri Yayasan sekaligus pengurus Yayasan terdiri dari :
Ketua Umum         : Drs.H.K.Djanget Santoso
Ketua I                       : Drs.H.Moedjiono Kartoprandjono
Ketua II                      : Drs.H.M.Oemar
Ketua III                     : Drs.H.Supawi Achmadi
Sekretaris Umum       : Drs.H.A.Anshari Ritonga
Sekretaris                  : Drs. H. M. Ridwan
Bendahara Umum     : Drs. H. Imran Hasyim
Bendahara                 : Drs. H.M. Adam Anang
Pembantu                  : H. Umarsih, SH

 

Bersamaan dengan pembentukan Yayasan, dibuat juga Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Yayasan oleh H.A.Anshari Ritonga sebagai Sekertaris Umum Yayasan. Berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Yayasan, bahwa Ketua III dalam Kepengurusan Yayasan bertugas dan bertanggung jawab untuk mengelola dan mengurus Masjid, maka Drs.H.Supawi Achmadi, otomatis  menjadi Ketua Umum Masjid At-Taqwa menggantikan Drs.H.M. Oemar sebagai Pengurus lama.

 

Kemudian dengan pindahnya Ketua Umum Yayasan (H.Djanget Santoso) ke Malang Jawa Timur, maka seluruh Pengurus Yayasan yang ada, meminta kesediaan  Dr.H.Muslih Muhsin untuk menjadi Ketua Umum Yayasan menggantikan H.Djanget Santoso. Dan alhamdulillah beliau bersedia, kemudian pada tanggal 30 September 1999, dilaksanakanlah serah terima Ketua Yayasan dari H.Djanget Santoso kepada Dr.H.Muslih Muhsin. Acara serah terim dihadiri oleh Dirjen Pajak ( H.A.Anshari Ritonga ) dan Direktur PBB ( H.Hasan Rachmany ) serta undangan lainnya.
Mengingat tugas pokok Yayasan adalah mengelola Masjid lebih profesional dan Masjid At-Taqwa ini adalah milik masyarakat, maka diharapkan banyak orang yang melibatkan dirinya untuk mengurus Masjid At-Taqwa, lalu Kepengurusan Masjid di era H.Supawi Achmadi, mengalami perubahan. Maka pada tanggal 24 Mei 2001, dilantiklah Pengurus Baru Masjid At-Taqwa Komplek Pajak Kemanggisan dengan Ketua Umumnya : Dr.H.Muslih Muhsin.
Setelah Dr.H.Muslih Muchsin meninggal dunia pada tahun 2003, maka Pengurus memilh H.Maryanto untuk menggantikannya. Pada saat yang sama H.Hasan Rachmany diangkat menjadi Ketua Umum Yayasan, menggantikan Dr.H.Muslih Muhsin.Setelah 8 tahun berjalan, ketua Masjid mengalami pergantian. Drs.H.Maryanto menjadi Sekertaris Umum Yayasan, lalu di ganti H.Darwi menjadi Ketua Masjid sampai sekarang.

 

Ketua Masjid At-Taqwa dari masa ke masa :
1.    Tahun 1977 sampai tahun 1980 : H.Sumahar Paisan
2.    Tahun 1981 sampai tahun 1985 : H Moedjiono Kartoprandjono
3.    Tahun 1986 sampai tahun 1991 : H.M.Oemar
4.    Tahun 1992 sampai tahun 2001 : H.Supawi Achmadi
5.    Tahun 2001 sampai tahun 2003 : H.Muslih Muhsin
6.    Tahun 2003 sampai tahun 2011 :  H.Maryanto
7.    Tahun 2012 sampai sekarang    :  H.Darwin

 

Banyak orang yang berjasa dalam membangun, mengelola dan memelihara Masjid ini, dan orang-orang yang terlibat langsung pada awal Masjid di bangun adalah : H.Imran Hasyim, H.Eddy Mangkuprawira, H.Sutadi Sutarya, H.Dja’far Mahfudz, H.Husein Kartasasmita, H.Sudibyo, dan H.Hasanuddin dan H.A.Anshari Ritonga

 

Setelah Masjid dibangun permanen, ada beberapa orang lagi yang mengabdikan dirinya mengelola dan mengurus Masjid ini, baik sebagai Pengurus maupun sebagai Panitia Ramadhan dan kegiatan lainnya, diantaranya : H.I.Arifin, H.Bahri Bratakusuma, H.Usman Nitikusumah, H.Sudibya Ahmadi,dll. Keberadaan Masjid At-Taqwa ini, sangat bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya, baik manfaat yang bersifat materil maupun non materil.