Sejarah Masjid Az-Zahrah Tebet

Komplek Gudang Peluru

Gudang Peluru yang terletak di Kebon Baru Tebet Jakarta Selatan dibuka sebagai komplek pemukiman oleh Gubernur DKI pada waktu itu, almarhum Ali Sadikin sekitar awal tahun 1970-an. Daerah pemukiman baru ini sekarang dikenal sebagai komplek Gudang Peluru.

Sejak dibuka sebagai komplek pemukiman, rumah-rumah mulai dibangun dan berangsur-angsur mulai dihuni. Kehidupan bermasyarakatpun dimulai, antara lain dengan olah raga jalan pagi. Dari obrolan jalan pagi kemudian muncul keinginan kumpul-kumpul untuk mempererat persaudaraan diantara keluarga-keluarga yang sudah tinggal di Gudang Peluru sekalian diisi dengan ceramah-ceramah agama.

Yayasan Pembinaan Umat Islam Azzahrah

Sekitar tahun 1978 warga Muslim yang tinggal di Gudang Peluru mulai mengadakan pengajian. Tempat pengajian digilir bergantian di rumah-rumah warga. Pengajian ini diberi nama pengajian Gudang Peluru dan Alhamdulillah sampai sekarang masih tetap berjalan. Dengan bertambahnya penghuni-penghuni baru pengajian ini semakin besar dan semakin dirasakan pula kebutuhan akan tempat ibadah. Pihak pengelola komplek tidak menyediakan tanah tempat ibadah. Bagi komunitas Muslim, masjid memang sangat diperlukan. Masjid bukan hanya tempat beribadah, melainkan juga sebagai tempat berkumpul dan bermusyawarah, madrasah, tempat pelatihan dan lain-lain untuk keperluan ummat. Masjid memiliki peranan yang sangat besar bagi kehidupan ummat Islam sebab masjid merupakan pusat pergerakan masyarakat muslim sekaligus proses kegiatan mereka. Pada zaman Rasulullah SAW dan para sahabat, ketika membuka wilayah baru pastilah mereka membangun masjid terlebih dahulu sebelum membangun rumah-rumah, pasar dan fasilitas-fasilitas lainnya.

Beberapa peserta pengajian ini kemudian mendirikan sebuah yayasan yang diberi nama Yayasan Pengajian Gudang Peluru dengan akte nomor 124 notaris Mohamad Said Tadjoedin tertanggal Delapan bulan Ramdahan tahun 1499 H atau sepuluh Agustus tahun 1980 M. Para pendiri yayasan adalah : H. Abdoel Moeis Hassan, Mohamad Boesono SH, Ir. Soehari Sargo, Drs Hasan Segeir, Soebandi Dariokoesoemo, Drs.Soeroso Soemodihardjo. Yayasan didirikan untuk menaungi kegiatan-kegiatan seperti misalnya pendidikan formal dan untuk mewadahi asset-asset tetap seperti tanah yang harus berbentuk badan hokum. Nama Yayasan ini kemudian dirubah menjadi Yayasan Pembinaan Ummat Islam Azzahrah melalui akta nomor 156 notaris M.S. Tadjoedin tertanggal sebelas syawal tahun 1403 H atau dua puluh dua Juli 1983. Nama Azzahrah diadopsi dari nama masjid Azzahrah yang telah ditetapkan sebelumnya.

Adapun tujuan didirikannya yayasan adalah :

  1. Memperdalam keyakinan dan keimanan selaku muslimin dan muslimat;
  2. Meneruskan pengabdian pada nusa dan bangsa ; dan
  3. Mendirikan sekolah-sekolah, masjid-masjid dan mushola-mushola.

Susunan badan pengurus untuk pertama kalinya adalah :

  1. Penasehat : Ketua RW 03/07 Kelurahan Kebon Baru Kecamatan Tebet, Drs. Hasan Segeir, Bapak Athaillah Hamidy
  2. Ketua : Bp H Abdoel Moeis Hassan
  3. Wk. Ketua : Bp Ir. Soehari Sargo, Ibu Atin Rokaya Affan Ahmad
  4. Sekertaris : Bp Ir. Agus Salim, Bp Drs. Komaroedin Asarie
  5. Bendahara : Bp Soebandi Dariokoesoemo
  6. Anggota : Bp Mohamad Boesono SH, Bp Abdul Kadir Zaelani, Bp Sambas.

Sejak adanya Yayasan, keinginan untuk membangun masjid semakin besar. Bahkan beberapa warga mulai menabung untuk membeli tanah. Alhamdulillah, doa dan keinginan dan doa ini dikabulkan Allah SWT. Pada waktu itu ada sebidang tanah di Blok E komplek Gudang Peluru, milik Bp Muhammad Attamimi seluas ± 525 m² yang kabarnya mau dijual.

Sekitar bulan Mei 1980 Bp Moeis Hassan, Bp. Hassan Seiger, Bp. Boesono dan Bp. Athaillah Hamidy menemui Bp. Abdul Kadir Attamimi, ayah Bp. Muhammad Attamimi. Waktu itu Bp Muhammad Attamimi sedang berada di Australia. Dalam pertemuan tersebut Bp Moeis Hassan menanyakan perihal tanah di sudut Blok E dan menyampaikan keinginan warga untuk membeli tanah tersebut guna dibangun mushola/masjid di atasnya. Bp Abdul Kadir menjawab tanah tersebut milik anaknya yang sekarang menetap di Australia dan akan meneruskan keinginan warga kepadanya.

Kurang lebih 4-5 bulan kemudian ketika Bp. Muhammad Attamimi berada di Jakarta, Bp. Moeis Hassan bersama Bp. Hassan Seiger, Bp. Boesono, Bp. Athaillah Hamidy dan Bp. Soeroso kembali berkunjung ke rumah Bp Muhammad Attamimi menyampaikan keinginan warga. Bp Muhammad Attamimi balik bertanya apakah mungkin memperoleh ijin mendirikan masjid di komplek elite Gudang Peluru ini karena sudah ada beberapa masjid di sekelilingnya. Bp. Soeroso menyatakan bisa dikeluarkan dan berjanji akan mengurus perijinan yang diperlukan secepatnya. Bp Soeroso adalah Kepala Kantor Wilayah Agraria DKI dan mempunyai hubungan dekat dengan Bp Rio Tambunan dari Dinas Tata Kota Jakarta Selatan. Mendengar pernyataan Bp. Soeroso itu Bp Muhammad Attamimi langsung mengatakan tanah akan diwakafkan, tidak usah dibeli. Pada awal September 1980 Bp Moeis Hassan memperoleh kuasa dari Bp Muhammad Attamimi untuk mengurus akta hibah dan sertifikat tanahnya.

Dengan surat kuasa tersebut Bp Soeroso segera mengurus surat-surat yang diperlukan. Bulan November 1980 dilakukan pemetaan dan pengukuran. Bulan Desember 1980 sudah keluar advis planning. Bulan itu juga terbit Hak Pakai atas nama Yayasan Pengajian Gudang Peluru berlaku sampai dengan tahun 1990. Selanjutnya sertifikat diperpanjang untuk selama masih dipakai, atas nama Yayasan dan setelahPembinaan Ummat Islam Azzahrah.

Drs H Muhammad bin Abdul Kadir Attamimi MA memulai karirnya di Departemen Pekerjaan Umum urusan bantuan luar negeri. Oleh pemerintah beliau dikirim untuk melanjutkan studinya di negeri Belanda dan setelah selesai kembali ke Departemen PU. Ketika Bp. Purnomo Sidi menjabat Menteri Pekerja umum menggantikan Bp. Sutami, Bp Muhammad di tempatkan di Asian Development Bank. Setelah selesai bertugas di ADB beliau berhenti dan melanjutkan kariernya di perbankan Australia, mukim disana sampai sekarang.

Pembangunan Masjid

Dengan selesainya pengurusan surat-surat tanah kegiatan untuk mendirikan mushala/Masjid di mulai. Dari pembicaraan dengan Bp Moeis Hasan, Bp Boesono selaku ketua RW mengundang seluruh warga Gudang Peluru termasuk yang non Muslim. Salah seorang diantaranya adalah Bp Yusman. Pertemuan diadakan di rumah Bp Soeroso. Dalam pertemuan tersebut disampaikan rencana pembangunan mushala/masjid dan perlu biaya. Semua yang hadir mendukung. Pertemuan ini dilanjutkan dengan beberapa pertemuan lainnya. Sumbangan untuk pembangunan mulai mengalir masuk baik berupa uang maupun material bangunan. Sumbangan dari luar diperoleh melalui semacam kupon sadaqoh jariah. Panitia pembangunan dibentuk dengan ketua Bp Boesono, bendahara Bp Affan Ahmad, pencari dana Bp Abdoel Moeis, pelaksana pembangunan Bp Masduki Suman dan Legal/Perijinan Bapak Soeroso.

Pada bulan Maret tahun 1981 Bp Abdoel Moeis Hassan selaku ketua Yayasan mengajukan permohonan ijin mendirikan mushala di atas tanah tersebut. ijin Pendahuluan diberikan pada bulan Maret itu juga, dan ijin Mendirikan Bangunan terbit bulan Juni 1981. Dengan keluarnya ijin Pendahuluan, mushala mulai dibangun. Rencana arsitektur dibuat oleh Bp Ir. Masduki Suman. Sedangkan perhitungan kontruksi dibuat oleh Bp Setiawan Kanani dari Dinas Tata Kota Jakarta Selatan. Bp.Ir. Masduki Suman juga ditunjuk sebagai pimpinan pelaksana pembangunan. Bangunan terdiri dari dua lantai, lantai atas merupakan ruang ibadah sedangkan lantai bawah ruang ibadah/serbaguna. Oleh karena tanahnya relatif sempit dan tidak tegak lurus kiblat, dinding lantai atas dirancang dengan tekukan-tekukan sedemikian rupa sehingga dari dalam ruangan ibadah terkesan bangunan searah dengan kiblat. Pondasi dan tiang beton bertulang, lantai bawah dilapisi teraso dan lantai atas dilapis parquet. Dinding tembok, rangka atap baja dan penutup atap dari genteng tegola. Bentuk atap mengikuti tekukan-tekukan dinding lantai atas. Pada sisi Barat ada bunker sehingga lantai dibuat split level dan diatas bunker dibuat panggung. Semula bunker akan digunakan sebagai ruang perpustakaan namun karena tingkat kesulitannya tinggi rencana ini dibatalkan.

Peletakan batu pertama dilakukan oleh Bapak Abdullah Salim dari Dewan Dakwah Komisariat Jakarta dan dari pihak keluarga Attamimi diwakili oleh Bp Abdul Kadir Attamimi ayahanda Bp Muhammad Attamimi. Pembangunan dilaksanakan dalam 2 tahap. Tahap pertama lantai bawah kemudian berhenti ± 1 tahun dan baru kemudian lantai atas.

Dalam dinamika pembangunannya ada diskusi tentang perlu tidaknya bangunan memakai kubah. Ada yang berkeras perlu ada kubah sebagai identitas bangunan masjid. Bapak Masduki berpendapat tidak perlu. Tidak semua masjid ada kubahnya bahkan di tanah Arab. Akhirnya disepakati bangunan tidak memakai kubah.

Pembangunan mushala ini selesai pada tahun 1983. Gubernur DKI. Pada waktu itu Bp R Suprapto menetapkan peruntukkan bangunan sebagai masjid dan meresmikannya pada tanggal 21 Juli 1983 dengan nama Masjid Azzahrah

Alhamdulillah hasil jerih payah generasi awal warga Gudang Peluru ini masih kokoh berdiri dan sangat bermanfaat warga Muslim, baik warga Gudang Peluru maupun warga sekitarnya.

Allah berfirman :

Bertasbih kepada ALLAH di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut namaNya didalamnya pada waktu pagi dan petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah dan (dari) mendirikan shalat dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (dihari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang (An Nur : 36-37)

Rasulullah SAW bersabda :

Barang siapa membangun masjid karena ALLAH, niscaya ALLAH membangun rumah di surga baginya ( Shahih Bukhari – Muslim ).

Sumber: www.masjid-azzahrah.org