Menara Sebagai Simbol Syiar Agama

Dokumentasi Foto Thamrin Dahlan
Dokumentasi Foto Thamrin Dahlan
Haji Pudjo Basuki Bendahara Masjid Jami An Nur melaporkan kepada saya bahwa pengecatan kembali Menara Masjid Jami An Nur sudah bisa dikerjakan sekarang.  Memang sudah lama terniat oleh Khadimullah (baca: Pelayan Allah) bahwa warna cat menara itu sudah mulai pudar harus segera dipugar. Maklum sejak dibangun 12 tahun yang lalu tepatnya Bulan Jumadil Akhir awal 1426 Hijirah menara masih dengan kondisi cat yang lama. Walaupun dulu cat yang dipakai untuk Menara  termasuk kualitas terbaik, namun karena terkena matahari dan hujan selama ini tentu cat itu lambat laun berubah dan malah sudah ada yang terkelupas.

 

Kondisi keuangan Masjid memungkinkan membiayai pengecatan tersebut yang diperkirakan mencapai Rp. 65.000.000,- . Kami selaku pengurus masjid tidak begitu khawatir terkait ketersediaan dana. Berdasarkan pengalaman membangun Menara tersebut pada tahun 2005 para donatur yaitu umat Islam berlomba lomba memberikan infaq. Artinya Allah SWT akan mengatur segalanya karena niat baik membangun Rumah Allah pasti mendapat dukungan dari masyarakat sekitar bahkan dari para musafir.

 

Seperti diketahui ketika kami berniat membangun Menara tahun 2005, Habib Umar Bin Ahmad Al Hamid selaku guru ngaji rutin menegaskan bahwa apabila membangun masjid harus ada referensi. Artinya jangan sembarang membangun bagian terpenting dari Masjid. Beliau mengajak pengurus masjid meninjau salah satu menara di kawasan kampung melayu Jakarta Timur. Subbhanallah disana terlihat dengan megahnya menara masjid menjulang tinggi. Habib Umar mengatakan ini bentuk menara yang wajib haji bangun.  Menyerupai profil Menara Masjid Nabawi Madinah.
Dokumentasi Foto Thamrin Dahlan
Dokumentasi Foto Thamrin Dahlan

 

Kemudian Habib Umar menegaskan bawa fungsi menara adalah untuk syiar agama Islam. Menara kami dengan tinggi 33 meter sudah pasti akan terlihat dari jauh bagi umat yang ingin menegakkan sholat. Selain itu dari ketinggian menara akan terdengar suara azan menggema di angkasa ke radius puluhan kilometer. Inilah pentingnya satu bagian Menara bagi masjid yang memudahkan bagi jamaah musafir yang sedang lewat untuk singgah beribadah. Ternyata ucapan Habib Umar ada benarnya, posisi strategis masjid Jami An Nur sangat mendukung dalam kemakmuran masjid bersebab berada di kawasan yang dekat dengan keramaian dan pemukiman penduduk. .

 

Strategis bermakna disini tersedia tempat parkir yang luas, berada di pinggir jalan Raya Bogor KM 21 Kelurahan Rambutan Km 21  Jaktim. Masjid yang didirikan tahun 1962 ini terletak di lingkungan Asrama Polri Komseko Polsek Ciracas. Dalam usianya menginjak lebih dari setengah abad sudah banyak renovasi dilakukan untuk memenuhi salah satu syarat memakmurkan masjid. Syarat itu adalah terciptanya  suasana masjid yang aman, nyaman, bersih dan terawat. Inilah persyarat fisik yang sudah terpenuhi selain adanya Iman Rawatib serta terselenggaranya 30 Taklim dalam sebulan.

 

Selaku Kadimull Masjid, Saya dan Pak Haji Pudjo, Pak Rikun, Pak Darsono serta Pak Sugeng pada hari Sabtu 8 April 2017 menyaksikan tukang yang sedang berada di atas menara. Ada juga rasa khawatir di ketinggian dimana sebelumnya kami berpesan agar para tukang cat itu menggunakan sabuk pengaman. Paling tidak untuk berjaga jaga karena ada resiko mereka terpeleset mengingat rangka bambu sebagai penopang itu jangan terlalu diandalkan. Memang di sekeliling menara telah dibuat rangka bambu dengan ikatan sistematis saling menguatkan dari bawah sampai di atas. Nampaknya para tukang yang berniat bekerja mengecat menara hanya sebagai ibadah sebagaimana penuturan Pak Darsono saudara sekampung mereka.

menara masjid an-nur 3
Dokumentasi Foto Thamrin Dahlan

 

Selain mengecat  Haji Pudjo yang juga ahli di bidang elektronik khususnya listrik melaporkan bahwa lampu sorot juga akan di perbaiki. Demikian juga posisi loud speaker di empat sisi utara, selatan, barat dan timur perlu diatur lagi agar suara gema azan bisa terdengar ke segala arah. Insha Allah lampu yang sudah lama mati akan akan dihidupkan kembali. Lampu-lampu itu akan menerangi kembali sehingga akan terlihat keindahan Menara yang bentuknya seperti Menara Masjid Rasulullah Nabi Muhammaddi Madinah.

 

Rumut-rumput yang tumbuh di bagian luar atas menara juga sudah dibersihkan. Memang agak aneh juga di atas ketinggian bisa tumbuh rumput atau sejenis tumbuhan. Bisa jadi burung-burung berperan serta dalam menanam benih di ketinggian sana. Insha Allah menyambut Ramadhan tahun ini keindahan masjid akan semakin memberikan nuansa keagaamaan sehingga diharapkan masjid akan semakin makmur seiring dengan motto Masjid Jami An Nur yaitu Shalat fardhu seramai sholat Jum’at.

 

Kepada saudara-saudaraku pembaca kiranya pada satu kesempatan anda bisa berkhidmat di Masjid Jami An Nur.  Anda akan merasakan nuansa seperti Masjid Nabawi ketika melihat tiang-tiang di bagian dalam seperti tiang yang ada di Raudhah. Inilah salah satu keistimewaan Masjid Jami An Nur yang mungkin tidak ada di masjid lain. Anda akan menyaksikan pula Mimbar Khatib dibuat dari kayu jati dengan bentuk mimbar serupa dengan mimbar Masjidil Haram Makkah. Artinya mimbar itu tidak sama dengan podium, justru mimbar terbuka dengan 3 anak tangga tapakan.  Mimbar dilengkapi dengan tongkat atau tombak sebagai lambang kepemimpinan seorag Khalifah
Dokumentasi Foto Thamrin Dahlan
Dokumentasi Foto Thamrin Dahlan

 

Kami tunggu kehadiran sobat dengan segala senang hati. Apalagi ketika anda berkunjung pada Bulan Puasa, maka terasa sekali suasana Ramadhan karena di sini disediakan tajil gratis dan makanan juada sepanjang hari. Jamaah musafir yang datang sangat ramai sangat terbantu, mengingat dalam perjalanan mendapat pelayaan luar biasa menyenangkan dari warga dan khadimullah Masjid Jami An Nur.

 

Sebagai bentuk tanda peringatan di depan masjid terdapat 2 buah prasasti.  Prasasti pertama sebagai tanda kapan Menara dibangun untuk bukti dan alibi bagi penerus masjid. Sedangkan prasasti kedua dituliskan acara memperingati 50 tahun atau setengah abad berdirinya Masjid Jami An Nur (1962-2012). Inilah bukti-bukti sejarah yang perlu diabadikan mengingat sunatullah bahwa regenerasi Khadimullah adalah sesuatu yang harus dipersiapkan guna melayani umat di Baitullah (baca: Masjid).

 

Semoga seluruh amal ibadah kita siapapun dia dalam memakmurkan Baitullah di muka bumi ini mendapat Redha Allah SWT.  Tak lupa semua sunatullah Rasulullah Nabi Muhammad SAW kami dawamkan di sini sebagai umat ahlus sunnah wal jamaah antara lain dengan tetap merayakan maulid berupa pembacaan Rawi Nabi setiap malam Jum’at dan kesempatan taklim hari putih.

Jakarta, 8 April 2017

Thamrin Dahlan

Sumber: www.c.uctalks.ucweb.com

122 total views, 1 views today