Khutbah Jum’at: Kemenangan dan Spirit Jihad

“Pada kesempatan khutbah sekarang ini, izinkan Khatib untuk mengulas hakekat kemenangan menurut Kitab Suci Al-Qur`an. Menang, dalam bahasa Arab adalah faaza yafuuzu. Orang yang menang (dalam bahasa Arab disebut) faizun. Istilah arabnya ismul faa’il. Itu sebabnya, ketika kita setelah berpuasa di bulan suci Ramadhan sebulan penuh, kita memasuki hari kemenangan, kita mengucapkan minal ‘aaidiin wal faa`iziin, fii kulli aamin wa antum bikhair (Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali ke fitrah dan semoga kita termasuk orang-orang yang meraih kemenangan. Semoga setiap saat dan setiap tahun, kita senantiasa dalam keadaan baik.)

Itulah petikan mukaddimah yang disampaikan oleh Ust. Dr. H. Sunandar Ibnu Nur, MA, dalam khutbah Jum’at di Masjid Al-Ikhlas Mabes Polri, 9 Sya’ban 1438 H atau 5 Mei 2017.

Dalam khutbah Jum’at yang diberi tema “Kemenangan dan Spirit Jihad” itu, Khatib menjelaskan bahwa kata “faizun” (orang yang menang) disebutkan dalam bentuk plural atau jamak di empat tempat di dalam Al-Qur`an.

“Nah kata-kata faa`izun (orang yang menang), di dalam Al-Qur`an dibahasakannya dalam bentuk plural, dalam bentuk jamak, yaitu orang-orang yang meraih kemenangan. Dan ternyata ketika ditelusuri, dari kitab Konkordansi Qur`an, sebuah kitab bagus karangan Ali Audah, yang menjelaskan dan menguraikan tentang bagaimana kita mencari ayat demi ayat dari 30 juz, dari 114 surat atau dari 6666 ayat itu, ini bisa mencari jejak, bisa mencari kata faa`izuuna, ada di surat apa ayat berapa. Dan ternyata ada 4 ayat yang menjelaskan hal ini,” papar Khatib yang merupakan Dosen FIDKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Menurut Khatib, keempat tempat tersebut adalah sebagai berikut:
Pertama: Surah An-Nuur atau surah ke-24, ayat 52, yang berbunyi:

وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ وَيَخْشَ اللهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولئِك هُمُ الْفَائِزُوْنَ

Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. An-Nuur [24]: 52)

Dari ayat ini, kata Khatib, ada 3 syarat yang dibutuhkan agar seseorang masuk ke dalam golongan orang-orang yang meraih kemenangan menurut Al-Qur`an. Ketiga syarat tersebut adalah:

  1. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan ini adalah satu paket.
  2. Takut hanya kepada Allah.
  3. Takwa hanya kepada Allah.

“Ini dapat kita fahami bahwa ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasul (yang notabene manusia) adalah keniscayaan. Kemudian kalau coba kita sandingkan dengan ayat yang lain dalam surat an-Nisa, dikatakan:

أَطِيْعُوا اللهَ وَأَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنْكُمْ

Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.(QS. An-Nisaa` [4]: 59) Artinya, taat kepada Allah dan Rasul adalah satu paket,” jelas Khatib.

Dalam menjelaskan hal ini, Khatib mengutip pendapat Prof. Dr. Said Agill Munawar, seorang pakar di bidang Ushul Fikih, serta seorang ahli tafsir dan ahli hadits, yang juga merupakan dosen Khatib saat menempuh program doktoral di UIN Jakarta.

“Ketika mengatakan taat kepada Allah, ada kata athii’uu, ketika mengatakan taat kepada Rasul, ada kata athii’uu, lalu ketika mengatakan ulil amri, yakni pemerintah, tidak ada kata athii’uu. Menurut Prof. Dr. Said Agil Munawar bahwa taat kepada Allah (bersifat) muthlak, taat kepada Rasul (bersifat) muthlak, tapi taat kepada ulil amri, selama ulil amri tadi berpegang pada ajaran-ajaran yang terdapat pada Al-Qur`an dan Sunah Rasul,” tegas Khatib.

Kedua: Surah Al-Mu`minuun atau surat ke-23, ayat 49, yang berbunyi:

إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوْا أَنَّهُمْ هُمُ اْلفَائِزُوْنَ

Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.” (QS. Al-Mu`minuun [23]: 49)

Di sini Khatib menegaskan, dari ayat ini dapat difahami bahwa sabar juga menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi bila kita ingin dikelompokkan ke dalam golongan orang-orang yang meraih kemenangan, baik di dunia ataupun di akhirat. Karena itu, Khatib salut dan bangga dengan kesabaran dari aparat dalam menangani kasus demi kasus hingga terciptanya NKRI yang aman dan damai.

Ketiga: Surat At-Taubah ayat 20, yang berbunyi:

الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِي سَبِيْلِ اللهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ الله، وَأُولئِكِ هُمُ اْلفَائِزُوْنَ

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. At-Taubah [9]: 20)

Dari ayat ke-20 dari Surah At-Taubah ini, menurut Khatib, ada tambahan 3 syarat lagi yang dibutuhkan agar seseorang dapat masuk ke dalam golongan orang-orang yang meraih kemenangan secara hakiki menurut Al-Qur`an. Ketiga syarat tersebut adalah:

  1. Menjadi orang-orang yang beriman dan senantiasa (berusaha) meningkatkan keimanan.
  2. Menjadi pribadi umat Rasulullah saw. yang hijrah, yaitu hijrah ruhaniyyah atau berpindah dari satu keadaan ke keadaan yang lebih baik, dan dari sifat males beribadah menjadi rajin beribadah, termasuk di dalamnya hijrahnya seorang aparat atau pemimpin yang tidak berpegang kepada Al-Quran dan As-Sunah berubah menjadi orang yang berpegang pada ajaran-ajaran yang terdapat pada Al-Qur`an dan As-Sunah.
  3. Jihad atau berjuang di jalan Allah, baik dengan harta ataupun jiwa raga.

Khatib menambahkan, dalam buku Konkordansi Qur`an, jihad disebutkan di dalam Al-Qur`an berulang-ulang, diantaranya kata jihad itu diulang sebanyak 4 kali. Lalu kata jaahada diulang sebanyak 6 kali, kata jaahaduu (plural) diulang 11 kali, dalam bentuk fi’il mudhari’ atau present tense diulang sebanyak 4 kali.

“Kata jaahada (berjihad) di sini disebutkan jaahaduu fii sabiilillaah bi amwaalihim wa anfusihim (berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa raga). Kata-kata berjihad dengan harta disebutkan lebih awal (lebih dulu) daripada jihad dengan jiwa raga, mengandung pengertian bahwa dalam konteks keindonesiaan dimana terjadi krisis ekonomi secara berkepanjangan sejak 97 sampai 98 itu, maka banyak orang-orang yang susah, kaum dhuafa, ketika kita bantu dengan harta yang ada pada kita, maka berarti kita telah berjihad. Bisa difahami juga bahwa jihad dengan jiwa raga atau qital (peperangan) itu merupakan alternatif terakhir,” jelas Khatib.

Khutbah pertama ditutup dengan harapan dan saran Khatib agar semua masalah yang ada di negeri kita tercinta ini diselesaikan dengan jalur musyawarah, sesuai dengan firman Allah swt.: “wa syaawirhum fil amri” (Maka bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu). (AF)

125 total views, 1 views today