Khutbah Jum’at: Ihsan Sebagai Puncak Keimanan

“Ma’asyiral Muslimin, jamaah shalat Jum’at yang dirahmati Tabaaraka wa Ta’ala, mari terlebih dahulu kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah Jalla wa ‘Alaa. Nikmat Allah tiada terbilang, nikmat Allah sangat besar, oleh karenanya Allah ingatkan kita Wain ta’uddu ni’matallaahi laa tuhsuuhaa (Jika kalian mau mencoba menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan mampu).”

Demikianlah pendahuluan khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ust. Fawaz Mushonnif di Masjid Al-Baitul Makmur Kebayoran Baru, 15 Sya’ban 1438 H atau 12 Mei 2017.

Setelah mengingatkan tentang begitu banyaknya nikmat yang Allah berikan kepada kita, Khatib menjelaskan tentang apa yang semestinya kita lakukan guna mensyukuri nikmat-nikmat Allah tersebut, yaitu dengan cara menggunakannya untuk berbuat ketaatan kepada-Nya.

“Mata kita, nikmat yang sangat mahal. Jika ada orang yang ingin membeli penglihatan sebelah dari mata kita ini, pastilah harganya kita sebut (misalkan) 1 Milyar. Maka, Allah tidak menginginkan kita menghitung nikmat itu, namun Allah menginginkan kita menggunakan nikmat mata itu dengan melihat sesuatu yang Allah Ta’alaa ridha jika kita melihatnya. Lihatlah Al-Qur`an, bacalah Al-Qur`an dengan mata kita, pandang ayah ibu kita dengan penuh keridhaan, pandang istri kita dengan penuh kasih sayang, pandang anak-anak kita dengan penuh tarbiyah dan pendidikan, untuk mensyukuri nikmat mata,” jelas Khatib.

Khatib juga mengingatkan bahwa Allah swt. akan meminta pertanggungjawaban atas semua nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita. Khatib membacakan firman Allah swt. yang berbunyi:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50]: 18)

Menurut Khatib, jika kita telah menggunakan nikmat-nikmat Allah itu, baik nikmat mata, nikmat telinga, nikmat mulut, nikmat kaki ataupun nikmat-nikmat yang lainnya, untuk melakukan hal-hal yang diridhai Allah swt. dan bernilai kebaikan di sisi-Nya, dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka itulah hakekat ihsan kepada Allah.

“Ketika Baginda Rasul ditanya oleh Malaikat Jibril tentang apa itu definisi ihsan, sebuah kedudukan dalam agama kita yang sangat tinggi, (dimana) yang pertama iman, kemudian aplikasinya melalui islam, dan puncak gabungan dari iman dan islam ini adalah ihsan. Apa itu ihsan? Baginda Rasul menjelaskan: An ta’budallaaha kaanaka taraahu, fa inlam takun taraahu, fainnahuu yaraaka (Ihsan itu adalah engkau beribadah kepada Allah [dengan berbagai macam cara, dari berbagai sisi: ucapan, sikap dan perbuatan, dan kalian berbuat itu dengan beriman kepada Allah], seakan-akan engkau sedang melihat Allah, tapi kalau engkau belum mampu beribadah seakan-akan sedang menghadap Allah Jalla Jallaaluh, maka [silahkan ambil pilihan level yang kedua, apa itu?] merasa selalu diawasi dan dilihat Allah,” papar Khatib saat menjelaskan makna ihsan.

Dalam hal ini, Khatib memberikan perumpamaan seorang pegawai yang selalu dimonitor dan diawasi oleh atasannya melalui CCTV:

“Coba, kalau kita seorang pegawai, kita seorang pekerja, dimonitor oleh operator dan atasan kita melalui kamera CCTV, di ruang kita ini ada kamera CCTV (misalnya), sehingga kalau kita tidur akan ketahuan, dan ada operator yang akan melaporkannya, maka pasti kita akan bekerja dengan penuh disiplin, tidak akan melanggar perintahnya dan selalu menjauhi larangannya,” tegas Khatib.

Untuk lebih detail, silahkan dengarkan rekaman khutbah berikut ini:

128 total views, 1 views today