Khutbah Jum’at: Menjaga Anggota Badan Dari Hal-hal Yang Dilarang

Imam sekaligus Khatib Masjid Nabawi, Syeikh Dr. Husein bin Abdul Azis Alu Syeikh, mengajak jamaah shalat Jum’at untuk memanfaatkan momen Ramadhan tahun ini guna melakukan berbagai ketaatan dan amal kebajikan.

“Wahai kaum Muslimin, tujuan dan target termulia bagi seorang hamba adalah ketika dia bersegera untuk melakukan berbagai kebajikan dan memanfaatkan berbagai momen atau kesempatan hanya untuk berbuat kebaikan. Dan orang-orang yang paling dahulu, mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. (QS. Al-Waqi`ah [56]: 10-11),” jelas Syeikh Husein mengawali khutbah yang disampaikannya di Masjid Nabawi pada shalat Jum’at tanggal 2 Juni 2017 M atau 7 Ramadhan 1438 H itu.

Dalam khutbah singkat itu, Khatib menjelaskan bahwa orang yang mendapatkan hidayah dan taufiq dari Allah swt., dirinya akan terdorong untuk senantiasa menjaga seluruh anggota tubuhnya dari hal-hal yang dilarang Allah serta berusaha agar berbagai amal kebaikan yang dilakukannya senantiasa terjaga dari hal-hal yang dapat mengotorinya.

Khatib juga mengingatkan Jama’ah bahwa di antara faktor yang dapat menyebabkan seseorang akan mengalami kerugian atau kebangkrutan di akhirat kelak adalah ketika dia berusaha dan bersungguh-sungguh dalam melakukan berbagai kebaikan, tetapi kemudian dia sendirilah yang membatalkan pahala dari kebaikan-kebaikan tersebut.

Menurut Khatib, kebangkrutan seperti ini adalah kebangkrutan yang sesungguhnya, sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah saw. dalam sabda beliau: “Tahukah kalian siapakah orang yang muflis (bangkrut) itu?’ Para sahabat menjawab, “Orang yang muflis (bangkrut) di antara kami adalah orang yang tidak punya dirham dan tidak punya harta.” Rasulullah SAW bersabda, ‘Orang yang muflis (bangkrut) dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala) melaksanakan shalat, menjalankan puasa dan menunaikan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa) karena mencela si ini, menuduh si ini, memakan harta ini dan menumpahkan darah si ini serta memukul si ini. Maka akan diberinya orang-orang tersebut dari kebaikan-kebaikannya. Dan jika kebaikannya telah habis sebelum ia menunaikan kewajibannya, diambillah keburukan dosa-dosa mereka, lalu dicampakkan padanya dan ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

Selain itu, Khatib juga menekankan bahwa keselamatan seseorang dalam menjalani kehidupan di dunia ini sangat tergantung pada upayanya untuk menjaga seluruh anggota badannya dari hal-hal yang diharamkan Allah, sebagaimana kebahagiaan seseorang sangat tergantung pada seberapa besar upayanya untuk melakukan berbagai ketaatan kepada Allah dan menjaganya dari hal-hal yang dapat merusak pahalanya.  Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa yang memiliki satu kezhaliman terhadap saudaranya sesama Muslim, baik berkaitan dengan kehormatan ataupun hartanya, maka hendaklah dia membebaskan dirinya dari dosa itu sebelum datang satu hari dimana pada saat itu tidak ada lagi Dinar dan Dirham, (sehingga untuk membalasnya) akan diambilkan dari (pahala) kebaikan-kebaikannya. Jika dia sudah tidak memiliki kebaikan lagi, maka dosa atau keburukan saudaranya itu akan ditambahkan kepada keburukan-keburukannya.(HR. Bukhari)

Oleh karena itu, Khatib pun mengajak kaum Muslimin untuk senantiasa berhati-hati dalam menjalani kehidupan dunia yang fana ini agar jangan sampai menzhalimi hak-hak orang lain, karena Allah swt. akan menuntut dikembalikannya hak-hak itu di akhirat kelak bila saat di dunia hak-hak tersebut belum dikembalikan. Sebelum menutup khutbah pertama, Khatib menekankan bahwa orang yang sedang berpuasa harus mengetahui hakekat puasa, yaitu untuk membina dan melatih ketakwaan sebagaimana disinyalir Allah swt. dalam firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

74 total views, 1 views today