Khutbah Jum’at: Konsep Ibadah Dalam Islam

Dalam khutbah yang disampaikannya di Masjidil Haram pada shalat Jum’at, 6 Syawal 1438 H atau 30 Juni 2017, Syeikh Dr. Faishal Ghazawi selaku Imam dan Khatib, selain mengingatkan kaum Muslimin untuk beribadah dan bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya, yaitu dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya demi mendapatkan keridhaan-Nya semata, beliau juga menjelaskan tentang pengertian ibadah yang sesungguhnya.

“Allah swt. berfirman di dalam Al-Qur`an: ‘Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.’ (QS. Adz-Dzaariyaat [51]: 56) Penjelasan dan keterangan dari Allah swt. ini menegaskan kepada kita bahwa tujuan diciptakannya jin dan manusia, serta faktor yang menyebabkan Allah menciptakan keduanya, adalah agar mereka mengabdi atau beribadah kepada-Nya,” papar Syeikh Ghazawi mengawali khutbahnya.

Sebelum memberikan penjelasan lebih detail tentang hakekat ibadah, Syeikh Ghazawi melontarkan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

  • Ibadah seperti apakah yang Allah inginkan dari kita?
  • Apa pengertian ibadah dalam Islam?
  • Apakah yang dimaksud dengan ibadah adalah seperti yang diyakini oleh sebagian orang bahwa ia hanyalah sekedar mengerjakan shalat, zakat, puasa dan haji, serta tidak ada hubungannya sama sekali dengan akhlak, perilaku dan sikap kita dalam berinteraksi sosial?

Dalam menjelaskan makna Ibadah, Khatib mengutip pendapat Syeikh Ibnu Taimiyyah yang menegaskan bahwa kata “ibadah” merupakan isim (kata benda) yang mencakup semua hal yang disukai dan diridhai Allah swt., baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah.

“Shalat, zakat, puasa, haji, berkata jujur, menyampaikan amanah, berbakti kepada kedua orangtua, menyambung tali silaturahmi, menepati janji, menyuruh yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, berjihad melawan orang-orang kafir dan kaum munafikin, serta berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, budak dan juga binatang, bahkan berdoa, berdzikir dan membaca (Al-Qur`an ), dan yang sejenisnya, adalah termasuk katagori ibadah,” jelas Khatib.

Khatib menegaskan bahwa dalam Islam, ibadah mencakup semua aspek kehidupan, tidak hanya beberapa aspek saja. Hal ini sebagaimana disinyalir dalam firman Allah swt.: “Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’aam [6]: 162)

Dari sini, maka Khatib mengajak kepada kaum Muslimin untuk meluruskan kembali pemahaman yang salah mengenai ibadah, yaitu pemahaman yang membatasi ibadah hanya pada sebagian ketaatan dan amaliah-amaliah fardhu saja. Menurut Khatib, semua hal yang disukai dan diridhai Allah, bila dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah semata, maka akan mendatangkan pahala dan dikatagorikan sebagai ibadah yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah swt..

“Maka janganlah seseorang menganggap remeh amal kebajikan, besar ataupun kecil. Sebab, senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah, menyingkirkan sesuatu yang membahayakan di jalan adalah sedekah, serta masih banyak kebaikan-kebaikan lain yang termasuk katagori ibadah, seperti sifat malu, perilaku atau akhlak yang baik, memperlakukan orang lain dengan baik, menjalin persaudaraan (sesama Muslim) karena Allah, jujur dalam berbicara, mudah memaafkan kesalahan orang lain, mendamaikan dua pihak yang bersengketa, serta sikap-sikap baik lainnya yang ada dalam hubungan antar sesama anggota masyarakat,” tegas Khatib.

Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.: “Setiap persendian manusia ada sedekahnya, setiap hari dimana matahari terbit di dalamnya; Mendamaikan dua orang (yang berselisih) adalah sedekah, membantu orang dengan menaikkannya ke atas kendaraannya atau mengangkatkan barang miliknya ke atas kendaraannya itu juga termasuk sedekah, perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah yang ditempuh seseorang menuju masjid juga termasuk sedekah, serta menyingkarkan gangguan dari jalan juga termasuk sedekah.(HR. Bukhari Muslim)

Bahkan, menurut Khatib, perbuatan-perbuatan yang hukumnya mubah sekalipun dapat menjadi sebuah ketaatan yang dapat mendatangkan pahala. Sebagai contoh, menyalurkan hasrat seksual bila dilakukan pada jalan yang benar dan dengan niat yang baik, akan menjadi sebuah ketaatan yang dengannya seseorang akan mendapatkan pahala. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dzar ra., disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Dan pada kemaluan kalian (berjima’) terdapat sedekah.” Mereka (para sahabat) bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah mungkin bila salah seorang di antara kami menyalurkan syahwatnya, lalu dia akan mendapatkan pahala?” Rasulullah pun menjawab: “Bagaimana pendapat kalian seandainya dia menyalurkannya di jalan yang haram, bukankah dia akan mendapatkan dosa? Demikian pula bila dia menyalurkannya di jalan yang halal, maka dia pun akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)

Di akhir khutbah pertama, Khatib menyayangkan berkembangnya faham sekulerisme yang berusaha memisahkan agama dari kehidupan, dimana faham ini telah mempengaruhi pikiran banyak orang Islam, sehingga mereka tidak mau memasukkan konsep ibadah ini ke dalam sebagian besar aspek kehidupan mereka, baik sosial, ekonomi, pemikiran dan lain sebagainya. Mereka beranggapan bahwa ibadah hanyalah sebatas ritual di masjid saja, dan tidak ada hubungannya dengan hal-hal yang bersifat duniawi. (AF)

178 total views, 1 views today