Khutbah Jum’at: Kenikmatan Duniawi dan Prinsip Keseimbangan

Imam dan Khatib Masjid Nabawi, Syeikh Dr. Abdul Bari At-Thubaity, menekankan bahwa upaya seorang Muslim untuk menikmati berbagai fasilitas dan kenikmatan duniawi yang telah dianugerahkan oleh Allah swt. kepadanya harus didasarkan pada prinsip keseimbangan. Hal itu sebagaimana disampaikannya dalam Khutbah Jum’at di Masjid Nabawi, 14 Juli 2017 M atau 20 Syawal 1438 H.
“Allah telah menciptakan bumi ini untuk manusia dan menjadikannya sebagai sebuah hamparan. Dia telah memberikan kepadanya tempat tinggal dan berbagai kenikmatan di bumi. Dia telah memberikan keberkahan dan makanan untuknya. Dia juga telah menundukkan untuknya langit dan bumi, malam dan siang, matahari dan bumi, dan seluruh makhluk ciptaan-Nya, guna kemanfaatan dan menutupi kebutuhan hamba-hamba-Nya,” tegas Khatib mengawali khutbahnya.
Menurut Khatib, di antara hikmah ditundukkannya makhluk-makhluk Allah yang bermanfaat bagi manusia itu adalah agar seorang Muslim dapat menikmati hal-hal yang telah dihalalkan Allah kepadanya, atau agar dapat menikmati berbagai macam kenikmatan dan kesenangan duniawi yang dihalalkan Allah. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw.: “Sesungguhnya badanmu memiliki hak atas dirimu, matamu memiliki hak atas dirimu, isterimu mempunyai hak atas dirimu, dan tamumu mempunyai hak atas dirimu.”

 

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ ۚ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

 

Allah swt. juga berfirman: “Katakanlah: ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?’ Katakanlah: ‘Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, (khusus untuk mereka saja) di hari Kiamat.’ Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.(QS. Al-A’raaf [7]: 32)

 

Dalam khutbah tersebut, Khatib juga menegaskan bahwa seseorang akan diberikan pahala dan ganjaran bila dia menikmati berbagai kenikmatan duniawi itu dalam koridor syariat dan sesuai prinsip-prinsip agama, sebagaimana sabda Rasulullah saw.: “Dan pada kemaluan kalian (berjima’) terdapat sedekah.” Mereka (para shahabat) bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah mungkin bila salah seorang di antara kami menyalurkan syahwatnya, lalu dia akan mendapatkan pahala?” Rasulullah menjawab: “Bagaimana pendapat kalian seandaiknya dia menyalurkannya di jalan yang haram, bukankah dia akan mendapatkan dosa? Demikian pula bila dia menyalurkannya di jalan yang halal, maka dia pun akan mendapatkan pahala.”

 

Khatib juga menekankan satu hal penting, yaitu bahwa berbagai kenikmatan duniawi yang dianugerahkan Allah swt. kepada kita itu hendaknya tidak menjadi tujuan, tetapi sebagai sarana untuk menjalankan ajaran-ajaran-Nya dan sebagai sarana untuk menggapai berbagai kenikmatan yang dijanjikan Allah di surga kelak. Seorang Muslim haruslah meyakini bahwa kehidupan di dunia ini, meskipun dirinya diberikan umur panjang, pasti akan berakhir. Demikian pula dengan berbagai kenikmatan dunia, seberapa pun banyaknya, sejatinya itu hanya sedikit dan bersifat sementara, sebagaimana firman Allah swt.: “Katakanlah: ‘Kesenangan dunia ini hanya sebentar.” Allah juga berfirman: “Padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat hanyalah kesenangan yang sedikit.”

441 total views, 1 views today